Sabtu, 04 April 2009

(8) POKOK-POKOK JALAN LURUS AGAR TERUS BERUNTUNG

Hampir semua manusia – kalau mau jujur- menghendaki kehidupan yang sehat, kaya, banyak kawan, suami tampan atau isteri cantik, mertua baik hati dan kaya, semua kebutuhannya tercukupi serta kalau mati dalam keadaan enak, tidak pikun, tidak kesakitan dan masuk surga. Singkatnya, semua manusia dalam kondisi normal menginginkan hidupnya kapan saja dan di mana saja (baik sewaktu hidup di dunia maupun setelah mati) selamat sejahtera yang dalam hal ini untuk gampangnya disebut hidup yang terus memperoleh keberuntungan di sepanjang masa.

Namun seperti telah dibahas, tidaklah mudah untuk mencapai keberuntungan tersebut sebab berbagai kejadian (di antaranya adalah takdir dan godaan) selalu datang silih berganti. Kalau tidak hati-hati, akan menyebabkan manusia tergelincir sehingga mengakibatkan terjadinya azab. Oleh sebab itulah manusia perlu menempuh jalan lurus atau jalan keberuntungan. Bukan jalan bengkok atau tersesat atau yang dimurkai YMK.

Yang disebut sebagai jalan lurus – menurut firman YMK- adalah menyembah YMK (sebagai suatu yang fitrah), tidak ragu-ragu tentang hari kiamat, selalu ingat (shalat), memberikan kelebihan (menunaikan zakat), tidak berpecah belah, dll sebagaimana dijelaskan sebagai berikut:

  • Sesungguhnya Allah adalah Rabbku dan Rabbmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus. (QS. 19:36)… dan hendaklah kamu menyembah-Ku.Inilah jalan yang lurus. (QS. 36:61. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah.(Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (QS. 30:30). Dan sesungguhnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. (QS. 43:61). Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al-Kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya dalam(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. 98:4-5), dll
  • Jalan Tengah, yang memberikan penerangan dan menuju kepada ketenangan, kepada keinsafan, pencerahan, Nirwana (Sabda Budha).
  • Kebodohan adalah kesukaan bagi yang tidak berakal budi, tetapi orang yang pandai berjalan lurus.(Injil, Amsal 15:21). Jejak orang benar adalah lurus, sebab Engkau yang merintis jalan lurus baginya. (Injil, Yesaya 26:7)
  • “Firman Thian (Tuhan Yang Maha Esa) itu dinamakan Watak Sejati. Hidup mengikuti Watak Sejati itu dinamakan menempuh Jalan Suci. Bimbingan menempuh Jalan Suci itulah dinamakan Agama Jalan Suci tidak boleh terpisah biar sekejappun. Yang boleh terpisah itu bukan Jalan Suci….(Sabda Khong Fu Cu dalam Kitab Suci Susi, Tengah Sempurna Bab Utama).

Sementara itu menurut YMK pula, manusia baru akan memperoleh keberuntungan/kemudahan / pahala kalau dia :

  • banyak mengingatNya saat bertebaran di bumi sehabis shalat (QS 62 : 9-10).
  • memberi, bertakwa dan membenarkan pahala (QS 92:1-13)
  • selalu membaca kitab Allah, ingat (shalat), menafkahkan sebagian rezeki dengan cara diam-diam atau terang-terangan (QS. 35:29),
  • selalu sabar dalam keadaan terus beriman dan beramal saleh (QS 28:80), dll

Itulah sebagian dari pokok-pokok jalan lurus yang mengakibatkan manusia akan memperoleh keberuntungan berupa pahala di sepanjang masa. Apa yang akan diperoleh sebagai pahala bilamana manusia berjalan pada jalan lurus ? YMK menjelaskan bahwa pahala yang diperoleh tersebut antara lain adalah :

  • lemah lembut (QS 3:159; 19:96), dendam dicabut (QS 7:42-43), berjiwa tenang sehingga masuk surga (QS 89:27-30)
  • bersama-sama dengan orang yang diberi rakhmat dan mereka adalah teman yang terbaik (QS 4;69)
  • perniagaan yang tidak merugi (QS. 35:29), dibantu malaikat dengan izin YMK (QS 41:30-32), menjadi penguasa/mempusakai muka bumi (QS 24:55; 21:105)
  • hidup di surga sebagai wali Allah yang tidak khawatir dan tidak sedih (QS 7:49; 10:62), dll

Lemah lembut dan dendam dicabut akan menyebabkan musuh berkurang. Tidak khawatir dan tidak sedih akan menyebabkan penyakit (terutama depresi) menjadi berkurang bahkan hilang. Perniagaan tidak merugi akan menyebabkan sejahtera. Hidup di surga tentunya merupakan salah satu puncak keberuntungan. Itulah berbagai macam pahala yang bisa disebut dari tak terhingga pahala yang akan diberikan oleh YMK bila manusia mengikuti jalan lurus menuju keberuntungan.

Secara lebih sederhana – dengan mendasarkan diri pada firman-firman YMK tersebut di atas - jalan lurus atau jalan keberuntungan sepanjang masa dapat dirumuskan menjadi
berlomba-lomba mawas diri, lalu berbuat kebaikan dengan cara memperbaiki diri dan memberikan manfaat buat dunia sekeliling kita, sesuai dengan kesanggupan.kita dalam keadaan sabar dan selalu ingat kepadaNya sebagai wujud dari ikrar menyembah Yang Maha Pengasih-Penyayang, walaupun itu hanya sekadar memberi sesuap nasi atau secercah senyum atau secuil kalimat memaafkan atau ucapan terima kasih atau menghubungkan yang kurang dengan yang mampu atau mendamaikan yang sedang bermusuhan atau menahan kata-kata pedas atau menjadi isteri yang baik bagi suaminya atau suami yang baik bagi isterinya atau orang tua yang baik bagi anaknya atau anak yang baik bagi orang tuanya atau saudara yang baik bagi saudaranya atau warga yang baik bagi komunitasnya atau pimpinan yang baik bagi anak buahnya atau anak buah yang baik bagi pimpinannya, atau murid yang baik bagi gurunya atau guru yang baik bagi muridnya atau menengok yang sakit atau menyalami yang sedang gembira.

Itulah inti dari ajaran YMK, yaitu ajaran yang lurus, yakni selalu ingat kepadaNya dan mengasihsayangi umatNya dalam keadaan sabar. Tidak sebaliknya, yaitu melakukan perusakan, permusuhan, kejahatan, dsb.

Jalan keberuntungan atau jalan lurus itu diciptakan oleh YMK dengan sebutan yang bermacam-macam sebagaimana sebutan kepadaNya juga berbeda-beda karena KemahaBesaranNya. Ada jalan (agama) Tao, Ada jalan (agama) Khong Fu Su, Ada jalan (agama) Islam/Muslim, ada jalan (agama) Kristiani, ada jalan (agama) Hindu, ada jalan (agama) Budha, ada jalan penganut kepercayaan. Semuanya dihadirkan karena YMK mengasihsayangi manusia yang diciptakan dalam keadaan bernekaragam itu.

Mana ajaran yang benar ? Ajaran YMK tidak pernah salah, Yang berperan di sini adalah manusianya yang mungkin tidak tahu atau mungkin lupa sehingga tergelincir (akibat godaan dari utusanNya yang berfungsi menggoda /menyesatkan) lalu menyebabkan manusia :

  • hanya mengagung-agungkan nabi/rasul /orang-orang suci tertentu serta mengecilkan arti rasul /nabi lainnya
  • suka memperdebatkan konsep / hakekat hanya untuk mendapatkan pengakuan/jastifikasi bahwa “kamu benar “ atau “ jalan/ agamamu benar”
  • menjadikan suatu jalan / agama sebagai alat untuk untuk mencapai tujuan / kepentingan sesaat (mengumpulkan umat, berpolitik, dll) sehingga timbullah berbangga-bangga dan kedengkian serta mencela umat lain,
  • menghalalkan yang diharamkan, mengharamkan yang dihalalkan
  • mengubah firman atau mempelajari firman hanya sebagian saja tidak secara keseluruhan,
  • tidak mau mempelajari dan memahami umat lainnya sehingga tidak mengetahui anugerah YMK yang diberikan kepada berbagai umatNya
  • memaksakan suatu syariat agama tertentu kepada pengguna syariat agama lain lain padahal hikmahnya sama
  • berlebih-lebihan dalam melaksanakan syariat sehingga menyimpang dari inti syariat tersebut, dll

Beberapa firman yang berkaitan dengan hal ini antara lain menjelaskan sebagai berikut :

  • Katakanlah (hai orang-orang mukmin) : " Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang telah diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Rabb-nya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS. 2:136)
  • Katakanlah:"Hai Akhli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil dan al-Quran yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu". Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Rabbmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu. (QS. 5:68). Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 5:69)
  • Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (al-Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi al-Quran dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata:"Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami". Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (QS. 3:7)
  • Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan. Sesungguhnya Rabbmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (QS. 6:119)
  • Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain.(Injil, Ikorintus 4:6)
  • “Dua hal ini, oh petapa, tidak akan dilakukan oleh mereka yang pergi dari dunia ini. Apakah dua hal itu ? Yang pertama adalah bersatu dengan nafsu rendah, yang bisa diabaikan dan tak berguna. Yang kedua adalah bersatu dengan penyiksaan diri yang menyakitkan, bisa diabaikan dan tak berguna. Menghindarkan dua ekstrem ini, Tathagata telah mencapai pengetahuan tentang Jalan Tengah, yang memberikan penerangan dan menuju kepada ketenangan, kepada keinsafan, pencerahan, Nirwana.(Sabda Budha)
Siapapun yang berusaha dan belajar memahami serta mempraktekkan jalan lurus akan beranggapan bahwa tidak ada manusia yang salah. Yang ada adalah manusia yang tidak tahu atau lupa /lengah sehingga tergelincir berbuat sepeti itu. Mengapa ada manusia yang berbuat seperti itu ? Ternyata itu pun juga telah menjadi kehendakNya sehingga kita tidak bisa begitu saja merubah keadaan manusia tanpa izinNya.

Dengan memahami kondisi seperti itu maka kasih sayanglah yang akan mengedepan dalam menghadapi setiap makhluk. Tidak ada lagi tempat buat menyalahkan, menyepelekan, berbuat semena-mena, atau bersengketa dengan orang lain yang berada dalam kondisi lengah atau tidak tahu mengenai jalan lurus.

Dengan melihat kenyataan ini maka sesungguhnya manusia yang masih bertikai adalah manusia-manusia yang sama-sama tidak tahu atau lengah. Adalah tugas manusia yang lebih tahu dan tidak lengahlah untuk memberitahu dan mendamaikan mereka dengan sabar, tanpa memaksakan dan dengan menggunakan petunjukNya..

Jadi selama mengikuti YMK dalam keadaan ingat dan sabar maka selama itu pula seorang manusia berada di jalan lurus. Ia akan menghindari berbuat semena-mena, menyepelekan, mengecilkan arti, dan persengketaan. Ia akan mencoba berusaha terus menerus untuk menganjurkan tanpa paksaan kepada lingkungannya untuk berdamai, saling berkoordinasi dan berlomba membangun dan membangun dengan sabar.

YMK tidak membeda-bedakan manusia dan ajaran yang dipakai oleh manusia. YMK tidak membeda-bedakan syariat. YMK hanya membedakan siapa yang paling takwa sebagaimana tercantum dalam firmannya:

  • Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Rabb mereka, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. 2:62). Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah Timur dan Barat itu suatu kebaktian, akan tetapi sesungguhnya kebaktian itu ialah beriman kepada Allah, Hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. 2:177). Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Rabbmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus. Dan jika mereka membantah kamu, maka katakanlah :"Allah lebih mengetahui tentang apa yang kamu kerjakan". (QS. 22:67-68)
  • Penganut yang menyembah Tuhan lain dengan takwa sesungguhnya menyembah Aku, (meskipun) dengan cara tidak teratur (Weda, Baghawat Gita IX.23),
  • Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan Taurat dan kitab para nabi melainkan untuk menggenapinya (Injil, Matius 5:17)… karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah yang paling kecil dan mengajarkannya demikian kepada orang lain akan menduduki tempat yang paling rendah di surga. Jika kehidupan keagamaanmu tidak lebih baik dan benar daripada Akhli Taurat dan Farisi, kamu tidak masuk kerajaan surga (Injil, Matius 5:19-20), dl

Minggu, 22 Maret 2009

(7) KEBANYAKAN MANUSIA MERUGI

Seperti telah dibahas sebelumnya, manusia sejak lahir sampai matinya akan mengalami berbagai kejadian. Secara umum kejadian- kejadian tersebut dapat dikelompokkan menjadi : takdir, godaan, petunjuk / nasehat, pahala /hadiah, azab/hukuman.

Takdir adalah sesuatu kejadian yang bersifat “given”. Misalnya lahir sebagai wanita atau laki-laki, lahir dalam keadaan cacat, lahir dari ibu seorang pelacur atau lahir dari ibu yang suaminya kaya dan berkuasa, beristeri atau bersuami namun tidak dikaruniai anak kandung, suami terpilih menjadi wakil presiden, merasakan keganasan zaman “edan”, dll. Kejadian semacam ini tidak bisa ditolak dan tidak bisa diubah oleh penerimanya pada saat kejadian yang berupa takdir tersebut datang.


Mengapa dalam hidup manusia diberi takdir ? Mengapa manusia tidak disamakan saja takdirnya ? Penelaahan lebih mendalam melalui analisis dan penelusuran berbagai referensi memberikan jawaban yang di antaranya adalah sebagai berikut:
  • Takdir diberikan kepada manusia untuk mengingatkan manusia bahwa meskipun ia dapat mengelola alam namun ia hanya sekadar wakil YMK sehingga kehendakNyalah yang berlaku.bukan kehendak dia sebagai manusia (contohnya : ditakdirkan sebagai penguasa negara di mana ia ingin berdamai dengan negara lain namun negara lain itu ditakdirkanNya memaksakan kehendak untuk menguasai negaranya)
  • Takdir diberikan kepada manusia sebagai cobaan agar manusia ybs selain bersyukur atas apa yang terjadi pada dirinya juga berusaha memperbaiki diri dengan sabar (contohnya: takdir dilahirkan dari kalangan orang miskin yang mengharuskan dia bersyukur dan berusaha untuk kaya dengan cara yang lurus)
Godaan, sebagai bentuk kejadian selain takdir, pada intinya adalah suatu “energi” (di antaranya berupa bisikan dalam hati) yang menyebabkan timbulnya keinginan atau ketakutan atas takdir yang diberikan kepada kita. Beberapa contoh di antaranya adalah:
  • Ditakdirkan lahir dari keluarga miskin maka biasanya ada “godaan/bisikan” berupa keinginan untuk cepat kaya dengan cara menyimpang.
  • Ditakdirkan lahir dalam kondisi cacat maka biasanya ada “godaan /bisikan” untuk menyalahkan YMK yang telah menciptakannya.
  • Ditakdirkan tak punya anak maka biasanya ada “godaan/bisikan” berupa keinginan untuk kawin lagi, menyalahkan pasangan, atau memakai jalan pintas dengan cara mencari “orang pintar”
  • Ditakdirkan mempunyai pimpinan yang sangat otoriter maka biasanya ada godaan / bisikan berupa ketakutan sehingga ia “menjilat” pimpinan dan merugikan teman sekerja/anak buah.
  • Ditakdirkan hidup dalam periode “zaman edan” maka ada godaan / bisikan yang menimbulkan keinginan untuk kaya / berkuasa tanpa susah-susah sehingga menghalalkan yang sesungguhnya haram dan mengharamkan yang sesungguhnya halal.
Mengapa manusia digoda ? Hasil penelusuran kitab suci menghasilkan jawaban yang natara lain sebagai berikut
  • YMK memberi kesempatan kepada fungsi penyesat / penggoda (iblis/syaitan) untuk menjalankan perannya untuk menggoda manusia karena YMK Maha Adil (QS. 15:28-42, 17:62-63)
  • YMK hendak menguji apakah benar manusia menepati janji seperti yang diikrarkannya pada saat mau dilahirkan
Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):"Bukankah Aku ini Rabbmu". Mereka menjawab:"Betul (Engkau Rabb kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan:"Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Rabb)". (QS. 7:172)

Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (QS. 33:72)


Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya:"Bilakah datangnya pertolongan Allah". Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. 2:214)


dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (QS. 91:7-10)


Godaan yang dialami manusia, kalau tidak dikendalikan< akan menjadikan manusia tergiring masuk ke jurang ‘ketidakenakan’. Beberapa fenomena godaan yang menggiring manusia ke situasi yang tidak mengenakkan tersebut antara lain :

  • Saking sayangnya kepada pacar maka seseorang menjadi lupa belajar, lupa kerja, patah hati, bahkan ada yang bunuh diri.
  • Saking takutnya kepada atasan maka seseorang menjilat atasan dan merugikan (sadar atau tidak sadar) rekan kerja dan anak buahnya sendiri.
  • Saking senangnya bekerja maka seseorang sampai lupa waktu untuk makan/ istirahat, mendidik / mengajar anak dan bersilaturahmi dengan keluarga sampai suatu saat ia terkena penyakit maag, lever, keluarga berantakan dll.
  • Saking takutnya anaknya tak berhasil maka ia paksa anaknya belajar untuk mendapatkan peringkat di sekolah.
  • Saking sayangnya kepada mobilnya maka seseorang menjadi sangat marah kepada orang lain yang secara tak sengaja melecetkan cat/ merusak mobilnya
  • Saking takutnya pada isteri maka seseorang berbohong kepada isterinya agar isterinya tersebut tidak marah .
  • Saking sayangnya pangkat/ jabatan (baik di birokrasi maupun politik) maka seseorang berusaha dengan berbagai cara agar ia bisa berpangkat/ berjabatan dan tidak diturunkan dari pangkat/ jabatannya.
  • Saking takutnya miskin maka seseorang menjadi sangat pelit untuk mengeluarkan sebagian hartanya atau bekerja keras sehingga lupa bersilaturahmi.
  • Saking senangnya seks maka seseorang memburu tempat-tempat yang dianggapnya dapat memberikan kepuasan seks sampai suatu saat ia akan kecewa karena diserang penyakit atau digerebeg petugas/polisi
  • Saking senangnya makan maka seseorang lupa mengendalikan diri sehingga suatu saat ia akan sakit akibat terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang tidak sehat. �� Saking merasa pandainya maka seseorang tidak mau mendengar himbauan/ peringatan dan nasehat orang kebanyakan
  • Saking senangnya terlihat “wah” di mata orang lain maka seseorang membangun / membeli rumah, mobil, dll yang mencolok dibandingkan orang kebanyakan sehingga suatu saat ia akan kecewa karena rumahnya / mobilnya dirampok atau dicuri orang
  • Saking sayangnya kepada anak maka semua permintaan anak tersebut diturutinya sampai suatu saat ia akan kecewa karena ulah anaknya atau karena kejadian lain yang menimpa anaknya
  • Saking inginnya cepat kaya maka ia mencari cara lain untuk secepatnya menjadi kaya, antara lain dengan meminta bantuan jin, dll..
  • Saking inginnya “dekat” dengan Tuhan maka seseorang berpuasa berhari-hari, bertapa di atas gunung, lupa duniawi, lupa anak-isteri, dll
  • Saking senangnya cewek dan merasa diri tidak “pede” (percaya diri) maka seseorang pergi ke dukun ‘pelet’ untuk memikat sang cewek.
Untungnya, YMK Yang Maha Pengasih tidak membiarkan manusia begitu saja. Petunjuk atau tuntunan dari YMK lewat para utusanNya selalu datang kepada manusia. Namun demikian, kuat yang mana, apakah hawa nafsu yang kuat ataukah akal berdasarkan petunjukNya yang kuat ?.

Kalau hawa nafsunya lebih kuat maka ia akan megerjakan perbuatan negatif sedang bila akal dan petunjukNya lebih kuat maka ia akan melakukan perbuatan positif. Bagi manusia yang mengerjakan perbuatan positif maka dia akan memperoleh pahala dan dia disebut sebagai manusia beruntung (termasuk di dalamnya adalah memperoleh kemudahan).

Sedangkan bagi manusia yang mengerjakan perbuatan negatif maka dia akan memperoleh azab sehingga dia termasuk kategori manusia merugi. Beberapa ayat YMK yang berkaitan dengan keberuntungan dan kerugian menjelaskan sebagai berikut :
  • Manusia disebut merugi bilamana dia kehilangan diri sendiri dan keluarga (QS 42:45). Manusia akan celaka bila dia mengumpat dan mencela (QS 104:1), menetapkan (QS 74:11-310), jika tidak menegakkan shalat/tidak ingat YMK (QS 75:26-35), tidak memuliakan anak yatim, tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin, makan harta dengan cara mencampuradukkan yang benar dan yang buruk dan lebih mencintai harta (QS 89:15-20).
  • Manusia akan mendapatkan kesempitan hidup bilamana dia bakhil, merasa diri cukup dan mendustakan pahala terbaik (QS 92:1-13). Manusia akan memperoleh kemudahan kalau dia memberi, bertakwa dan membenarkan pahala (QS 92:1-13). Manusia akan beruntung kalau banyak mengingat Allah ketika bertebaran di muka bumi sehabis shalat (QS 62 : 9-10). Manusia akan beruntung dalam usaha/perniagaan kalau dia selalu membaca kitab Allah, mendirikan shalat, menafkahkan sebagian rezeki dengan cara diam-diam atau terang-terangan (QS. 35:29), dll
  • Manusia akan beruntung ke manapun pergi kalau kuat dan teguh hatinya dengan sungguh-sungguh, bertindak hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan oleh Musa; tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri (Injil, Yosua, 1:7)
  • Manusia akan beruntung kapan dan di mana saja kalau melakukan kewajiban dengan setia terhadap Tuhan Allah, hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, (Injil, 1Raja-raja 2:3)
Sebagian besar manusia – menurut YMK- termasuk golongan yang merugi karena mengerjakan perbuatan negatif akibat tidak tahu, tahu tetapi lengah / tidak sengaja dan tahu tetapi sengaja melanggar petunjuk YMK. Menurut YMK, kondisi sebagian besar / kebanyakan manusia adalah sebagai berikut
  • tersesat dari jalan lurus karena mengikuti hawa nafsu orang-orang yang lebih dahulu (QS. 5:77), disesatkan dan makin bertambah kesesatannya bilamana ia zalim (QS. 71:24), telah sesat (sebagian besar umat dahulu) (QS. 37:71), disesatkan oleh berhala-berhala (QS. 14:36)
  • selalu tidak berterima kasih (QS.17:67), sangat kikir (QS.17:100), tergesa-gesa (QS.17:11), amat zalim / bodoh (QS.33:72), jika ditimpa malapetaka tidak jemu memohon kebaikan, putus asa dan banyak berdoa namun jika diberi rakhmat sesudah susah maka ia berkata bahwa itu adalah haknya kemudian ia berpaling menjauhkan diri (QS.41:49-51),
  • selalu lari dari sakaratul maut (QS.50:19), lalai dari hari ancaman (QS.50:22), tidak mau mendengar berita gembira dan peringatan Allah lewat kitabNya (QS.41:4), tidak mensyukuri nikmat sehingga membohongi Allah tentang kiamat (QS. 10:60), benar-benar mengingkari pertemuan dengan YMK dan tidak memikirkan diri sendiri (QS. 30:8), fasik /benar-benar fasik (QS. 5:49, 59), fasik karena hati menjadi keras setelah masa panjang berlalu sejak Al-Kitab diturunkan (QS. 57:16), menyesatkan orang beriman dari jalanNya (QS. 6 :116), benar-benar hendak menyesatkan orang lain dengan nafsu tanpa pengetahuan sehingga mengharamkan yang tidak diharamkanNya(QS. 6:119)
  • tidak percaya bahwa Allah menciptakan langit dan bumi lebih besar daripada menciptakan manusia (QS. 40:57), tidak beriman kepada hari kiamat yang pasti akan datang (QS. 40: 59), tidak beriman bahwa Al Quran berasal dariNya sehingga ia menjadi ragu-ragu (QS. 11: 17;13:1), tidak suka / ingkar perumpamaan yang diulang-ulang QS (QS. 17:89), mempersekutukan Allah sehingga negerinya dihancurkan / diazab (QS. 30:42).
  • tidak mensyukuri bahwa karunia besar datang dariNya (QS. 27:73); tidak mensyukuri bahwa karuniaNya berupa malam untuk istirahat dan siang yang terang benderang (QS. 40:61), tidak mensyukuri nikmat telah dapat mengikuti agama-agama Ibrahim, Ishak dan Yakub yang tidak mempersekutukanNya (QS. 12:38), tidak mensyukuri (dihidupkan setelah dimatikan) (QS. 2:243)..
  • lengah dari tanda-tanda kekuasaanNya (QS. 10:92), membenci kebenaran (QS. 43:78), tidak tahu tentang kiamat (QS.7:187), tidak tahu bahwa manusia dihidupkan / dimatikan / dikumpulkan di hari kiamat oleh Allah (QS. 45:26), tidak tahu bahwa orang mati dibangkitkan Allah sebagai janjiNya yang benar (QS. 16:38), tidak tahu bahwa Allah berkuasa terhadap urusanNya (QS. 12:21), tidak tahu bahwa janji Allah adalah benar (QS. 28:13; 30:6); tidak tahu bahwa agama lurus hanya menyembah Allah (QS. 12:40), tidak tahu bahwa tidak ada perubahan pada fitrah Allah (agama lurus) dan manusia harus tetap pada fitrah itu (QS. 30:30), tidak tahu bahwa Allah melapangkan/ menyempitkan rezeki bagi siapa saja yang dikehendakiNya (QS.34:36); tidak tahu bahwa bila ditimpa bahaya ia menyeru Allah namun menganggap diri pintar bila diberi nikmat (QS. 39:49), tidak tahu dan tidak akan beriman (kecuali jika dikehendakiNya) bahwa jika Allah menurunkan malaikat maka orang mati akan berbicara dengan mereka (QS. 6:111), tidak tahu bahwa ada manusia yang mempunyai pengetahuan dari Allah (QS. 12:68); dll
  • melakukan kejahatan dan membelokkan hukum (Injil, Keluaran 23:1-2), kasih sayangnya makin menjadi dingin karena makin durhaka. (Injil, Matius 24:12) Apakah kita termasuk manusia seperti itu ? Mudah-mudahan tidak atau dengan kata lain mudah-mudahan kita termasuk golongan manusia yang beruntung karena tetap berada pada jalan yang lurus.(jalan yang benar).


Kamis, 19 Februari 2009

(6) SEHARUSNYA MEMBERI KARENA HUTANG BUDI

Berkaitan dengan peran masing-masing manusia seperti yang telah dibahas sebelumnya, tentunya kita akan sampai pada pemahaman fakta berikut ini :

  • Kita tak mungkin hidup kalau tak ada ibu dan bapak kandung kita
  • Kita tak mungkin disebut ibu kandung atau bapak kandung kalau tidak ada anak kandung yang langsung lahir dari diri kita atau dilahirkan oleh isteri kita.
  • Kita tak mungkin menjadi kaya kalau tidak ada yang mau bekerja dengan kita dan ada orang mau membeli barang/jasa kita.
  • Kita tak mungkin mempunyai rumah bagus kalau tak ada tukang dan kuali yang mau membangunnya
  • Kita tak mungkin bisa disebut bupati (kalau kebetulan kita bupati) atas suatu kabupaten kalau tidak ada rakyat yang diperintahnya
  • Kita tak mungkin bisa disebut polisi yang berhasil mencegah/ mengurangi kriminalitas (kalau kebetulan kita polisi) kalau tak ada manusia yang melakukan tindak kriminal (sehingga dapat dikatakan bahwa sesungguhnya gara-gara ada pelaku kriminal maka ada polisi naik pangkat).
  • Kita tak mungkin bisa bersatu kalau tak ada orang yang menjadi pemimpin yang menyatukannya.
  • Kita tak mungkin bisa bersyukur kalau kita tidak pernah melihat orang sombong, orang sakit, orang digebuki, dll
  • Kita tak mungkin bisa bekerja dengan baik kalau komponen tubuh (pernafasan, pencernakan, dll) kita tidak berfungsi dengan baik, dll
Dengan kata lain tidak mungkin kita bisa hidup sendiri. Terjadi fenomena saling memerlukan dan saling melengkapi. Demikian pula halnya dengan keberhasilan yang dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang (misalnya kelompok bisnis, LSM, pemerintahan, negara, dll), juga tidak mungkin terjadi dengan sendirinya. Selalu ada makhluk lain yang berkorban (suka atau tidak suka, terpaksa atau tidak terpaksa) agar keberhasilan tersebut dapat diraih.
Bisa kita bayangkan bagaimana jadinya kalau air “memberontak” tak mau diatur. Bagaimana jadinya kalau tanaman “memberontak” tak mau dipetik buahnya oleh manusia. Bagaimana jadinya kalau kuda tak mau dinaiki. Bagaimana jadinya kalau anggota keluarga atau anak buah kita “memberontak” tak mau diatur.
Menyimak berbagai fenomena tersebut, sesungguhnya setiap manusia itu selalu “berhutang budi” kepada makhluk / manusia lainnya. Dengan mengambil contoh sebelumnya, beberapa fenomena hutang budi tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:
  • Seorang pemimpin berhutang budi kepada yang memilih/mengangkatnya serta kepada anak buah/rakyat yang dipimpinnya
  • Orang yang punya rumah bagus berhutang budi kepada tukang dan kuli yang membantu membangun para pedagang bangunan dan orang lain yang melihat rumah itu lantas bilang “bagus”.
  • Orang yang punya pembantu rumah tangga berhutang budi kepada pembantu tersebut karena gara-gara pekerjaan di rumah beres, ada kesempatan untuk meraih rezeki di luar rumah .
  • Pedagang berhutang budi kepada para pemasok barang, pekerja yang membantu dan para konsumen yang membeli barangnya
  • Anak berhutang budi kepada orang tuanya
  • Orang tua berhutang budi kepada anaknya karena gara-gara ada anak tsb mereka bisa disebut orang tua, menjadi terhibur hatinya, dll.
  • Orang tua seorang anak berhutang budi kepada para guru anaknya, dll
  • Para pengembang perumahan (real estate developer) berhutang budi kepada masyarakat yang mau melepaskan/ menjual lahannya.
  • Orang baik berhutang budi kepada pencuri karena omongan orang baik seringkali tidak didengar oleh orang kaya sementara pencurian lebih menyebabkan orang kaya menjadi seringkali sadar
  • Orang baik berhutang budi kepada orang sombong karena menyebabkan orang baik tersebut bersyukur bahwa dirinya tidak sombong
  • Manusia berhutang budi kepada tanaman, hewan dan material-material lainnya yang ada di bumi dan langit karena gara-gara mereka maka manusia dapat makan, minum, melihat keindahan, dll.
  • Setiap manusia berhutang budi kepada seluruh organ tubuhnya karena gara-gara mereka ia dapat menjalankan tugasnya.
Hutang budi “perlu” dan bahkan “harus” dibalas secara langsung ataupun tidak langsung. Lantas bagaimana kalau kita tidak melakukan balas budi?. Berbagai hal yang tidak mengenakkan akan timbul, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Beberapa contohnya adalah :

  • Jika orang kaya tidak membalas budi kepada orang-orang yang telah menjadi lantaran dia kaya dengan cara memberikan sebagian hartanya kepada orang lain, terutama kepada yang miskin, maka pada suatu saat jurang kaya-miskin akan makin melebar sementara si miskin yang minus kasih sayang akan melakukan penjarahan atau pengrusakan.
  • Jika penguasa tidak tahu diri dan tidak membalas budi sehingga bersikap otoriter, maka pada suatu saat akan diturunkan oleh rakyatnya sendiri atau oleh orang asing.
  • Jika manusia tak tahu diri lalu membiarkan alam tidak terpelihara bahkan dirusak, maka banjir, longsor dsb biasanya akan membuat manusia menderita
  • Jika manusia hanya berpikir untuk maju atau bekerja keras tanpa kenal waktu dan lupa memelihara tubuhnya maka suatu saat ia akan sakit.
Pengertian membalas budi secara langsung adalah dengan memberikan barang berguna sesuai kebutuhan kepada makhluk/orang yang secara langsung telah membantu kita. Sedangkan membalas budi yang bersifat tidak langsung antara lain berupa menganjurkan atau memberikan sesuatu kepada makhluk/orang lain yang secara tak langsung membantu kita namun mempunyai pengaruh atas keberhasilan kita.

Contoh membalas budi secara langsung antara lain adalah :

  • Anak membalas budi kepada orang tuanya secara langsung dengan cara berkata-kata sopan, memelihara orang tuanya saat sudah tua renta,
  • Bos memberikan tambahan bonus kepada anak buahnya yang berprestasi
  • Mengunjungi teman yang sakit (walaupun ia sombong).
  • Mandi, olahraga, mengikuti acara ritual-religius, dll

Sedangkan contoh membalas budi secara tidak langsung adalah :

  • Menganjurkan untuk menolong orang miskin “yang tak mendapatkan kesempatan memperoleh kue pembangunan” karena sudah “direbut” duluan oleh orang-orang yang mempunyai modal, orang-orang yang dekat sumber informasi, orang-orang yang dekat kekuasaan.
  • Melestarikan mengendalikan pertumbuhan dan tidak membunuh atau memperlakukan tanaman/hewan dengan semena-mena.

Membalas budi, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat disebut dengan istilah berbuat baik. Jadi berbuat baik – kepada semua makhluk dan kepada diri sendiri- memang menjadi suatu keharusan karena kita berhutang budi. Kalau tidak dikerjakan, kita tidak dapat menjalankan peran kita sebagai manusia dalam arti yang sebenarnya.

Akhirnya setelah mengetahui berbagai fungsi utusan YMK yang bermacam-macam itu, maka kita patut bersyukur karena kita dijadikan sebagai manusia yang dengan izin YMK berfungsi untuk mengatur / memberdayakan alam semesta. Namun apakah peran itu sudah kita laksanakan dengan sungguh-sungguh, sebaik dan semaksimal mungkin ? Apakah kita masih suka malas “membalas budi” ? Apakah kita masih tidak mau mendengar, memusuhi, mencela, berbuat kasar, merusak, melakukan teror, bahkan membunuhi utusan YMK yang lain dengan semena-mena ? Apakah kita masih suka lupa sehingga secara tak sadar telah memberi tempat kepada penyakit dalam diri kita sendiri ? Mudah-mudahan tidak.


Kamis, 12 Februari 2009

(5) MANUSIA DI PANGGUNG SANDIWARA

Bicara lebih jauh tentang makhluk ciptaan YMK, maka peran yang diberikan oleh YMK kepada manusia tersebut ada yang bersifat “given” namun ada juga yang karena dipilih sendiri oleh manusia, baik dalam keadaan sadar maupun tidak.

Contoh peran yang bersifat “given” antara lain adalah peran sebagai seorang ibu, yaitu peran yang otomatis harus dilakukan oleh seorang wanita bilamana ia mempunyai anak. Atau peran seorang menantu, yang otomatis terjadi begitu seseorang mengawini pasangan hidupnya.

Contoh peran yang dipilih sendiri oleh manusia berdasarkan
kesadarannya antara lain adalah peran sebagai guru (orang tersebut memilih profesi guru dan tidak sebagai polisi, misalnya). Sedangkan contoh peran yang sering tidak dengan sadar dilakukan oleh seseorang adalah peran sebagai “orang sombong”, pencela, pencemooh, perusak lingkungan, perusak silaturahmi, dll.

Peran-peran tersebut di atas umumnya berkombinasi sehingga ada misalnya, seorang wanita yang berperan sebagai ibu karena mempunyai seorang anak. Kebetulan ia berprofesi sebagai guru (secara sadar ia menjadi guru) tetapi secara tak disadarinya ia seringkali bersikap sombong.


Banyak contoh lain mengenai peran manusia dalam kehidupan. Beberapa di antaranya adalah sebagai berikut :


  • Ibu adalah manusia yang diciptakan dan menjadi utusan YMK yang berfungsi antara lain melahirkan, menyusui/ memelihara, mendidik, melindungi saat kita masih kecil, menjadi pengganti suami bilamana suaminya tidak ada, bahkan adapula yang mencari nafkah untuk keluarganya, dll
  • Bapak adalah manusia yang diciptakan dan menjadi utusan YMK yang berfungsi antara lain sebagai lantaran lahirnya kita dan tercukupinya nafkah sewaktu kita masih dalam perawatannya
  • Suami atau isteri adalah manusia yang diciptakan dan menjadi utusan YMK yang berfungsi antara lain sebagai lantaran dapat dipenuhinya nafsu seksual secara wajar, dapat diperolehnya ketenteraman dan kesenangan, dapat dilahirkannya anak yang menjadi penyejuk hati / generasi penerus, dll
  • Anak adalah manusia yang diciptakan dan menjadi utusan YMK yang berfungsi antara lain menjadikan ibu/bapak menjadi sejuk hatinya saat anak tsb masih kecil dan lucu-lucunya serta kemudian menjadi pelindung saat ibu / bapak tsb sudah tua renta tak berdaya lagi
  • Saudara adalah manusia yang diciptakan dan menjadi utusan YMK yang berfungsi antara lain sebagai penyemarak hidup kekeluargaan (yang sepi kalau hanya satu), saling tolong menolong jika kesusahan dan memelihara orang tua saat mereka tua renta, dll.
  • Guru / ulama / pendeta/ pastor adalah manusia yang diciptakan dan menjadi utusan YMK yang berfungsi antara lain sebagai lantaran bertambahnya ilmu kita dalam bidang ilmu/ keagamaan
  • Nabi adalah manusia yang diciptakan dan menjadi utusan YMK yang berfungsi menyampaikan berita gembira, memberikan peringatan, membenarkan ajaran Nabi sebelumnya, memperbaiki moral manusia dan mengajarkan kalam dan hukum-hukum YMK.
  • Usahawan adalah manusia yang diciptakan dan menjadi utusan YMK bagi rakyat yang befungsi antara lain sebagai lantaran terciptanya lapangan kerja, terjadinya kegiatan ekonomi, dapat dipasoknya barang-barang yang diperlukan, dll.
  • Birokrat pemerintahan adalah manusia yang diciptakan dan menjadi utusan YMK bagi rakyat yang berfungsi antara lain sebagai lantaran tertatanya kehidupan bermasyarakat/ bernegara dengan sebaik-baiknya
  • Anggota parlemen adalah manusia yang diciptakan dan menjadi utusan YMK bagi rakyat yang berfungsi antara lain sebagai sebagai mitra birokrat untuk menyuarakan suara masyarakat dan menyusun undang-undang berdasarkan suara rakyat untuk kemudian dieksekusi oleh para birokrat pemerintahan
  • Pimpinan adalah manusia yang diciptakan dan menjadi utusan YMK bagi anak buah yang berfungsi antara lain sebagai koordinator dari suatu kegiatan sehingga kegiatan tsb mencapai targetnya.
  • Anak buah adalah manusia yang diciptakan dan menjadi utusan YMK bagi pimpinan yang berfungsi antara lain sebagai mitra sehingga kegiatan dapat mencapai target yang tak mungkin bisa dicapai bilamana dikerjakan sendiri.
  • Tetangga adalah manusia yang diciptakan dan menjadi utusan YMK yang berfungsi antara lain sebagai pengganti saudara kita untuk secara bergotong-royong menyemarakkan kehidupan dan saling tolong-menolong antar sesama.
  • Pembantu rumah tangga adalah manusia yang diciptakan dan menjadi utusan YMK yang berfungsi sebagai orang yang meringankan beban pekerjaan rumah tangga sehari-hari sehingga gara-gara itulah kita dapat mengerjakan hal lain yang memberikan hasil lebih banyak.
  • Orang miskin adalah manusia yang diciptakan dan menjadi utusan YMK yang berfungsi antara lain untuk mengingatkan orang kaya agar bersyukur bahwa ia diberi kekayaan dan sekaligus mau mendermakan sebagian kekayaannya tsb untuk membantu si miskin.
  • Orang kaya adalah manusia yang diciptakan dan menjadi utusan YMK yang berfungsi bagi si miskin agar ia terpacu untuk belajar dan bekerja agar menjadi kaya / tidak miskin.
  • Orang sakit adalah manusia (yang diciptakan dan menjadi utusan YMK) yang berfungsi antara lain agar yang sehat selain bersyukur bahwa ia sehata sekaligus mengingatkan agar ia menjaga kesehatan dirinya
  • Orang mati adalah manusia (yang diciptakan dan menjadi utusan YMK) yang berfungsi antara lain mengingatkan agar yang hidup menyadari bahwa suatu saat dia akan mati.
  • Pencuri adalah manusia (yang diciptakan dan menjadi utusan YMK) yang berfungsi (tanpa disadari oleh ybs) antara lain bagi yang normal agar bersyukur bahwa ia tidak mencuri karena perrbuatan mencuri selain merugikan orang lain juga akan berakibat suatu kali akan dihukum.
  • Orang sombong / jahat adalah manusia (yang diciptakan dan menjadi utusan YMK) yang berfungsi (tanpa disadari oleh ybs) antara lain sebagai media bersyukur bagi orang lain yang tidak sombong / jahat bahwa ia tidak sombong/ jahat sekaligus mengingatkan bahwa kesombongan / kejahatan itu akan menyebabkan dijauhi / dimusuhi orang.
Masih banyak contoh lain yang kalau didaftar akan tak habis-habisnya. Yang penting diperhatikan dalam hal ini adalah intinya, yaitu bahwa setiap manusia mempunyai peran masing-masing, walaupun banyak di antara kita yang tidak menyadarinya.

Dalam hal penampilan peran, YMK menyatakan bahwa ada yang kelihatannya buruk namun sesungguhnya dia baik. Sebaliknya ada yang kelihatannya baik namun sesunguhnya buruk. Dalam kehidupan sehari-hari yang kita lihat kaitannya dengan ini adalah seseorang yang kelihatannya alim (terlihat dari omongannya atau dari aksesorinya, dll) tetapi ternyata ia seorang penjahat. Sebaliknya ada seseorang yang kelihatannya “jauh” dari agama, namun ternyata perbuatannya yang diam-diam sangat dekat dengan agama. Inilah yang dinamakan orang dengan istilah “dunia adalah panggung sandiwara”, yang menyebabkan manusia – yang ingin hidupnya selamat - perlu hati-hati dalam memilah-milah penampakan yang ada di sekelilingnya.
  • Dan tiadalah kehidupan dunia ini selain dari main-main dan sendau gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidaklah kamu memahaminya! (QS. 6:32)
  • Sesungguhnya kehidupan dunia hanya permainan dan senda gurau.Dan jika kamu beriman serta bertaqwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (QS. 47:36)

Selasa, 10 Februari 2009

(4) MANUSIA PALING BERUNTUNG

Seperti telah diutarakan, YMK menciptakan berbagai ragam utusan di alam semesta ini untuk melaksanakan kehendakNya. Secara garis besar utusan YMK tersebut dapat dikelompokkan menjadi yang wujudnya tak nampak dan yang wujudnya nampak.

Berdasarkan kitab suci, peran makhluk ciptaan dan utusan YMK yang wujudnya tak nampak antara lain :

  • berfungsi menjaga alam semesta, menyampaikan hikmah /penjelasan dari YMK, mencatat dosa, mencabut nyawa, dll (disebut antara lain dengan istilah malaikat)
  • berfungsi menggoda / menyesatkan manusia agar merusak, menganiaya, mencemooh, dll (disebut antara lain dengan istilah iblis/syaitan, dll)

Sedangkan peran makhluk ciptaan dan utusan YMK yang wujudnya nampak adalah :
  • Bumi / langit (antara lain gunung, sungai, batu, tambang/mineral dll) adalah ciptaan dan utusan YMK yang berfungsi antara lain sebagai tempat manusia, flora, dan fauna hidup.
  • Flora adalah ciptaan dan utusan YMK yang berfungsi antara lain sebagai peneduh, bahan pangan, bahan bangunan, penghias / penyelaras, dll
  • Hewan adalah ciptaan dan utusan YMK yang berfungsi antara lain sebagai bahan pangan, penjaga rumah, tontonan, dll
  • Manusia (dalam arti seutuhnya) adalah ciptaan dan utusan YMK yang dengan izin YMK berfungsi untuk mengatur / memberdayakan alam semesta agar mencapai kemakmuran/kesejahteraan

Di antara berbagai ragam utusanNya itu, ternyata manusia diberi kelebihan dibandingkan ciptaan/ utusan lainnya walaupun manusia mempunyai keterbatasan. Kelebihan yang diberikan tersebut adalah kemampuan untuk mengatur atau memberdayakan utusan YMK lainnya.

Sebagai contoh, manusia bisa memberdayakan harimau meskipun secara fisik manusia biasa akan kalah melawan harimau. Sebaliknya, makhluk non manusia pada umumnya tidak bisa memberdayakan manusia.

  • Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS. 17:70)
  • …….Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." Berfirmanlah Allah: "Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu. Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya." ….. (Injil, Kejadian 1 : 28-31)
Dalam memberdayakan para utusan YMK tersebut, manusia mesti berbuat optimal dengan fokus kepada peningkatan kemakmuran / kesejahteran yang memerlukan kestabilan. Jika tidak bisa dilakukan, maka manusia akan mencari jalan lain agar kemakmuran dalam keadaan stabil itu dapat dipenuhi.

Dapat dimisalkan dengan seorang manusia bernama A, yang tinggal di suatu tempat, memiliki dan memberdayakan anjing, kucing, bebek, burung, tanaman yang bermacam-macam, dam sebagainya. Beberapa di antara hewan tersebut ada yang galak, ada yang penurut, ada yang suka menggigit, ada yang menghasilkan telur yang bisa dimakan manusia, dll.

Anjing yang galak tidak dibunuh, tetapi dimanfaatkan sebagai penjaga rumah dan bahkan dikawinkan agar menghasilkan anjing baru. Bebek yang menghasilkan telur terus dipelihara, bahkan terus dikembangbiakkan agar hasil telurnya lebih banyak. Tetapi pada suatu saat kalau banyak bebek sakit atau kalau anjing suka menggigit / makan bebek sehingga merugikan, apalagi membahayakan kesehatan manusia, bisa jadi bebek dan anjing tersebut akan disembelih.

Dengan demikian dalam usaha untuk mencapai kemakmuran dalam keadaan stabil itu semua makhluk yang ada tersebut dikasihsayangi (dalam pengertian diberi makan, tidak dibunuh dan diberi peran). Namun kalau ada yang melanggar aturan, apalagi bersifat merusak usaha untuk mencapai kemakmuran dan kestabilan, tentu akan dibinasakan.

Dalam kaitan itu mungkin saja sang anjing yang telah menggigit bebek tersebut akan beranggapan bahwa tuannya tidak menyayanginya. Padahal kalau dilihat dalam wawasan yang lebih luas, justru sang anjinglah yang telah merusak kemakmuran dalam kestabilan sehingga perlu dihukum. Kalau dibiarkan maka akan terjadi hambatan terhadap terjadinya kemakmuran dalam kestabilan.

Dengan melihat fenomena seperti itu maka sebenarnya manusia adalah “penggembala”, pimpinan, koordinator atau manajer dari semua makhluk yang ada di alam. Baik makhluk yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan. Baik makhluk yang sudah bernama maupun yang belum. Manusia menjadi wakil YMK untuk mengelola alam agar meningkat kemakmurannya.

Oleh sebab itulah manusia disebut beruntung karena ia bukan anjing atau bebek atau tanaman yang bisa diberdayakan oleh makhluk lain.

Minggu, 08 Februari 2009

(3) SEMUA MAHLUK ADALAH UTUSAN SANG MAHA

Karena Maha Suci, maka yang melaksanakan kehendak YMK - sebagaimana telah dikupas - adalah semua makhluk. Oleh karena itulah semua makhluk adalah utusanNya, yakni melaksanakan kehendak dari YMK.

Wujud utusan - sebagaimana telah dikupas- sangat beraneka ragam. Ada utusan yang berwujud manusia. Ada utusan yang berwujud tanaman, hewan dan lain-lain, termasuk utusan yang wujudnya tidak nampak.. Selain itu ada makhluk yang terlihat lembut, manja, cantik, pengasih, penyantun, humoris, dan sebagainya yang terkesan baik di mata manusia pada umumnya. Sebaliknya juga ada utusanNya yang
berperan atau terkesan kasar, ganas, perusak dan sebagainya.

Mengapa di alam semesta seakan-akan terjadi kontradiksi sebagaimana ditunjukkan oleh adanya utusan yang terkesan baik dan ada utusan yang terkesan buruk, ada yang bagus / indah dan ada yang jelek, ada yang berfungsi jahat dan ada yang berfungsi baik, dll ? Apakah YMK menghendaki adanya kejelekan, keburukan, kerusakan di muka bumi ? Kalau menghendaki kebaikan buat apa YMK menciptakaan adanya keburukan ?

YMK yang Maha Penyayang dan Maha Adil - seperti telah dijelaskan - memberi kesempatan kepada makhlukNya untuk memilih perbuatan mana yang sesuai dengan kemauannya. Manusia, sebagai makhluk YMK misalnya, boleh berbuat baik dan boleh pula berbuat jahat, tentunya dengan resikonya masing-masing. Jika berbuat jahat maka balasan akhir yang didapatkan – berdasarkan sistem yang diciptakan YMK- adalah ketidakenakan atau keburukan. Sebaliknya jika berbuat baik maka balasan akhir yang diperoleh - berdasarkan sistem yang diciptakan YMK- adalah kebaikan. Karena YMK Maha Suci – selain Maha Adil – maka YMK tidak sendirian membalas semua jenis perbuatan makhlukNya tersebut. Untuk itulah YMK menciptakan berbagai utusan yang berperan atau bertugas membalas perbuatan yang dilakukan oleh para utusan lainnya.

Di antara utusan yang berperan membalas perbuatan tersebut terdapat utusan yang berfungsi membalas kejahatan. Contohnya adalah orang yang sombong, secara tidak disadari oleh yang bersangkutan telah menjadi utusan untuk membuat orang lain yang hatinya jahat menjadi panas jika melihat kesombongan. Sementara bagi orang yang baik, orang sombong justru dianggap “bermanfaat” karena gara-gara ada orang sombong, maka orang baik menjadi teringat untuk bersyukur bahwa ia tidak sombong.

Dengan demikian fungsi jahatpun mempunyai peran – biasanya tanpa disadari oleh yang memerankannya – untuk membalas perbuatan jahat yang dilakukan oleh makhluk, disamping berfungsi mengingatkan orang yang baik agar bersyukur.

Dengan adanya pembalasan atas kejahatan tersebut maka akan terjadi “balancing” atau keseimbangan atau kestabilan atau dengan kata lain keburukan diminimalkan atau dikurangi atau direm sehingga kehidupan kembali kepada kebaikan/ kesejahteraan.

Tingkat kebaikan/ kemakmuran /kesejahteraan di alam semesta kalau kita perhatikan ternyata dari waktu ke waktu terus meningkat. Kalau dulu orang harus bertahun-tahun menempuh perjalanan dari satu benua ke benua lain, sekarang cukup dengan hitungan jam bahkan diramalkan akan terus makin singkat lagi. Demikian pula dalam hal berkomunikasi juga terbukti semakin instan. Orang tak perlu lagi menunggu informasi berhari-hari. Cukup dengan hitungan detik orang bisa saling tukar-menukar berita.

Atas dasar inilah tingkat kemakmuran / kesejahteraan di sepanjang zaman akan selalu terus melebihi tingkat perusakan / gangguan. Walaupun akan selalu ada perusakan dan kejahatan namun sifatnya hanya sesaat. Kebaikan/ kemakmuran / kesejahteraan – sebagai sesuatu yang bermanfaat – akan selalu lebih dominan.

  • Sebenarnya Kami melontarkan yang hak kepada yang bathil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang bathil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensipati (Allah dengan sifat-sifat yang tak layak bagi-Nya). (QS. 21:18).
  • Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya,maka arus itu membawa buih yang mengembang.Dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasaan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu.Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi.Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan. (QS. 13:17)
  • Kebenaran jualah yang menang dan bukan ketidakbenaran (Weda, Mundaka Upanisad III.1.6)
  • Manusia ibarat garam dunia sehingga kalau garam menjadi tawar maka dia tidak akan diasinkan dan tidak ada gunanya lagi selain dibuang dan diinjak orang (Injil, Matius 5:13)
Itulah penjelasan bahwa sesungguhnya YMK selalu menghendaki kebaikan/ kemakmuran/ kesejahteraan terus meningkat, bukan keburukan. Juga terbukti bahwa kebaikan / kemakmuran/ kesejahteraan yang lebih baik – walaupun tidak serta merta datang - adalah hasil akhir yang akan diperoleh setelah kehidupan sempat diganggu oleh kejahatan.

Sabtu, 31 Januari 2009

(2) DICIPTAKAN & DIPELIHARA OLEH SANG MAHA

Siapa yang menciptakan dan mengatur alam semesta yang sedemikian kompleks ini? Tidak ada satu pun makhluk yang kita sebut-sebut tadi mampu melakukannya sendiri. Apakah alam semesta terjadi sebagai suatu kebetulan atau apakah tercipta dan teratur dengan sendirinya ?

Tidak juga demikian sebab menurut kenyataan, setiap sesuatu selalu ada yang membuat atau menyebabkan terjadinya atau mengaturnya. Dengan kata lain semua yang ada dalam diri kita atau di luar kita tidak terjadi dengan sendirinya. Selalu ada rangkaian proses sebab-akibat yang panjangnya tak terhingga.

Bayi, misalnya, tercipta karena terjadi proses pembuahan sel telur wanita oleh sperma pria. Sementara itu sel telur dan sperma masing-masing tercipta karena berfungsinya fungsi-fungsi jantan dan betina yang ada pada tubuh induknya masing-masing. Fungsi jantan dan betina pada tubuh induk masing-masing tersebut menjadi berfungsi karena tubuh bisa melaksanakan proses pencernakan, pernafasan, dan proses-proses lainnya. Sedangkan proses pencernakan, pernafasan dan lainnya, masing-masing, ada yang mencipta dan mengaturnya. Demikian seterusnya sampai manusia tak sanggup lagi memikirkan dan menjelaskan karena tak terhingga panjangnya.

Karena tak terhingganya siapa yang menjadi pencipta, karena tak terhingganya siapa yang menjadi pengatur, maka yang mencipta dan mengatur alam semesta disebut oleh manusia yang meyakininya dengan sebutan Yang Maha Pencipta, Yang Maha Pengatur, Yang Maha Kuasa, Allah, Rabbi, Thian, Yahwe/Yehowa, Allah Bapa Di Sorga, Tuhan Yang Maha Esa, Sang Hyang Widhi, dll sesuai dengan lidahnya masing-masing.

Tentunya kalau yakin dan percaya, kita tidak perlu mempermasalahkan sebutan mana yang paling benar karena sudah dari sejak awal bahasa dan lekukan lidah kita memang diciptakan berbeda-beda. Belum lagi ada di antara kita yang lidahnya tak bisa menyebut “er” tetapi ”el”. Belum lagi di antara kita yang sejak lahir bisu atau pelo. Semua itu adalah karunia dari Yang Menciptakan kita semua.

Sang Maha Pencipta dan Maha Pemelihara pun – karena Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya- tak akan marah dengan sebutan yang bermacam-macam itu karena yang menciptakan keberagaman (bahasa, lidah, agama, dll) tersebut adalah Dia juga. Yang penting bagi kita, yang menggunakan bahasa Indonesia, bahwa yang mencipta dan memelihara alam semesta tersebut dalam bahasa Indonesia disebut Yang Maha Kuasa (untuk ringkasnya disingkat YMK). Beberapa rujukannya antara lain sebagai berikut :

  • Yang Menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah kepada yang lebih mengetahui tentang Dia. (QS. 25:59)
  • Beginilah firman Allah, Tuhan, yang menciptakan langit dan membentang-kannya, yang menghamparkan bumi dengan segala yang tumbuh di atasnya, yang memberikan nafas kepada umat manusia yang mendudukinya dan nyawa kepada mereka yang hidup di atasnya: (Injil, Yesaya 42:5)
  • Bumi dan langit memisah semua yang ada walau ada Dewa-dewa yang perkasa, mereka tidak menderita. Yang Tunggal menguasai apa yang bergerak dan apa yang diam, apa yang berjalan, apa yang terbang, ciptaan yang beraneka ragam ini (Rig Weda III 54:8). Sesungguhnya apa yang ada di dunia ini, yang berjiwa ataupun yang tak berjiwa, dikendalikan oleh Yang Maha Esa, oleh karena itu orang hendaknya menerima apa yang perlu dan diperuntukkan baginya dan tidak mengiginkan milik orang lain (Weda, Upanisad)

Berbagai fenomena yang ada di alam – kalau kita pelajari - menunjukkan bahwa YMK adalah Maha Segalanya. Binatang yang jinak, misalnya, mendorong timbulnya keinginan manusia untuk mengasihinya dalam bentuk memberikan makanan, mengelus-elus dll. Bahkan bukan hanya yang jinak, binatang yang ganaspun bila dalam keadaan kesakitan seringkali juga “mendorong” makhluk lain (di antaranya manusia) untuk menolongnya. Demikian pula anak yang kelaparan, menyebabkan orang lain menaruh iba kepadanya. Seolah-olah ada yang mendorong untuk berbuat kasih sayang kepada makhluk lainnya. Siapakah yang menjadi sumber awal pendorong kasih sayang ? Jawabnya adalah YMK yang juga Yang Maha Pengasih-Penyayang Yang Maha Gaib (karena tak terlihat).

Sebaliknya jika ada makhluk berbuat jahat, maka ada makhluk lain yang terdorong untuk menghukum/membalas dalam bentuk beraneka ragam yang di antaranya adalah cemooh, celaan, hukuman ringan dan bahkan hukuman mati. Sementara itu jika ada yang berbuat baik, maka makhluk lain cenderung untuk memberikan balasan yang baik dalam bentuk yang juga beraneka ragam. Siapa yang menjadi sumber awalnya ? Seperti telaah sebelumnya, yang menjadi sumber awalnya adalah YMK, yang juga Maha Pemberi Balasan Yang Maha Gaib (karena tak terlihat)

Dalam melaksanakan kehendakNya itu, termasuk di antaranya memberikan balasan kepada semua makhluk sesuai dengan perbuatannya masing-masing, YMK menciptakan suatu sistem di mana YMK tidak mengerjakannya sendirian. Yang melaksanakan kehendakNya tersebut adalah semua makhluk yang diciptakanNya dan atas dasar inilah YMK disebut Maha Suci.